kumpulan puisi angkatan 45,60,66, kontemporer dan pujangga baru Tugas kelas 12 SEMESTER 1
KUMPULAN PUISI DARI ANGKATAN 45’ –
66’ DAN KONTEMPORER
Puisi kontemporer.
SEPISAUPI
KARYA : SUTARDJI CALZOUM BACHRI
Sepisau luka sepisau
duri
Sepisau dosa sepukau
sepi
Sepisau duka serisau
diri
Sepisau sepi sepisau
nyanyi
Sepisaupa sepisaupi
Sepisapanya sepikau
sepi
Sepisaupa sepisaupi
Sepikul diri keranjang
duri
Sepisaupa sepisaupi
Sepisaupa sepisaupi
Sepisaupa sepisaupi
Sampai pisaunya ke
dalam nyanyi
Pujangga baru.
HARI MENUAI
KARYA : AMIR HAMZAH
Lamanya sudah tiada
bertemu
Tiada kedengaran suatu
apa
Tiada tempat duduk
bertanya
Tiada teman kawan
berberita
Lipu aku diharu sendu
Samar sapur cuaca mata
Sesak sempit gelanggang
dada
Senak terhentak raga
kecewa
Hibuk mengamuk hati
tergari
Melolong meraung
menyentak rentak
Membuang merangsang
segala petua
Tiada percaya pada
siapa
Kutilik diriku kuselam
tahunku
Timbul terasa terpancar
terang
Istiwa lama mereka
terang
Merona rawan membunga
sedan
Tahu aku
Kini hari menuai api
Mengetam ancam membelam
redam
Ditulis dilukis jari
tanganku
Angkatan 45’
HAMPA
KARYA : CHAIRIL ANWAR
Sepi diluar
Sepi menekan mendesak
Lurus kaku pohonan
Tak bergerak sampai ke
puncak
Sempit memagut
Tak satu kuasa
melepas-renggut
Segala menanti
Menanti
Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi
mencekik
Memberat-mencenkung
punda
Samapai binasa segala
Belum apa-apa udara
bertuba
Setn bertempik ini sepi
terus ada
Dan menanti
PERTANYAAN
KARYA
: DJOHANA (1945)
Mengapalah kau katakan itu
Sewaktu-waktu kunantikan itu sekarang
Mengapalah kunantikan itu
Hatiku tiada mau menunggu
Tetapi...
Kepala kupalingkan
Menoleh kebelakang, ke sebelah,, ke muka
Tetapi hari berdiam, sekali kali diam
Tanganku kukepalkan
Cerminnya ku pukul, kesunyian pecah
Tetapi aku heran melihat
Bertitiknya darah
Titk demi titik
Kesadaranku meniris
Apa yang kutanyakan, kutanyakan,kutanyakan,kutanyakan,?
Adakah aku yang telah bertanya?
Angkatan 66’
SALEMBA
KARYA : TAUFIK ISMAIL
Alma Mater, janganlah
bersedih
Bila arakan ini
bergerak perlahan
Menuju pemakaman
Siang ini
Anakmu yang berani
Telah tersungkur ke
bumi
Ketika melawan tirani
Angkatan 60’
LEWAT JENDELA
KARYA : TAUFIK ISMAIL (1960)
Sebuah jendela
meraihkan malam bagiku
seperti beribu malam yang lain
Pada engsel waktu ia
membawa tempias
Debu dan cahaya bulan
persegi yang jatuh miring ke atas meja tulis
Dua daun paru-paru yang
menapasi kamar ini
Setiap bayangan
menyelinap
Rusuh diburu berikut
pada engsel waktu
Diseberang awan
tersangkut di pucuk-pucuk cemara memberi siang matahari
Langit di waktu jarum
berpacu dengan angin
Bisik renyai sore
gerimis
Turun tertegun
kulekapkan dahiku ke kaca
Dan kuguratkan namamu
diatasnya
Perlahan dengan jariku
Yang gemetaran pada
kaca gerimis berlinangan
Ado yang puisi menyesal dak
BalasHapusDari Ali Hasyimi
Hapus